Headlines News :
Home » » Lir - ilir - EMHA Ainun Najib

Lir - ilir - EMHA Ainun Najib

Written By Danang Armady on Selasa, 16 Juli 2013 | 10.04

Bisakah luka yang teramat dalam ini nanti akan sembuh...?


Bisakah kekecewaan bahkan keputusasaan yang mengiris-iris hati berpuluh-puluh juta saudara kita ini, pada akhirnya nanti akan kikis...

Adakah kemungkinan kita akan bisa merangkak naik ke bumi dari jurang yang teramat curam dan dalam

Akankah api akan berkobar-kobar lagi

Apakah asap akan membubung lagi dan memenuhi angkasa tanah air

Akankah kita semua akan bertabrakan lagi satu sama lain, jarah-menjarah satu sama lain dengan pengorbanan yang tidak akan terkirakan

Adakah kemungkinan kita tahu apa yang sebenarnya sedang kita jalani

Bersediakah kita sebenarnya untuk tahu persis apa yang sesungguhnya kita cari

Cakrawala yang manakah yang menjadi tujuan sebenarnya dari langkah-langkah kita

Pernahkah kita bertanya bagaimana cara melangkah yang benar

Pernahkah kita mencoba menyesali hal-hal yang barangkali memang perlu disesali dari perilaku-perilaku kita yang kemarin

Bisakah kita menumbuhkan kerendah hatian dibalik kebanggaan-kebanggaan

Masih tersediakah ruang didalam dada kita dan akal kepala kita, untuk sesekali berkata kepada diri sendiri, bahwa
yang bersalah bukan hanya mereka, bahwa yang melakukan dosa bukan hanya ia tetapi juga kita

Masih tersediakah peluang didalam kerendahan hati kita untuk mencari apapun saja yang kira-kira kita perlukan meskipun barang kali menyakitkan diri kita sendiri

Mencari hal-hal yang kita benar-benar butuhkan agar supaya sakit, sakit, sakit kita ini benar-benar sembuh total

Sekurang kurangnya dengan perasaan santai kepada diri sendiri untuk menyadari dengan sportif bahwa yang mesti disembuhkan itu nomer satu bukan yg di luar diri kita, tetapi  didalam diri kita

Yang kita perlu utama lakukan adalah penyembuhan diri

Yang kita yakini bahwa harus betul-betul disembuhkan justru adalah segala sesuatu yang berlaku didalam hati dan akal pikiran kita

Saya ingin mengajak engkau semua memasuki dunia ilir ilir

" Lir ilir lir ilir tandure wus sumilir, tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar "

Kanjeng Sunan Ampel seakan-akan baru hari ini bertutur pada kita, tentang kita.
Tentang segala sesuatu yang kita mengalaminya sendiri namun tak kunjung kita sanggup untuk mengerti.
Sejak lima abad yang silam syair itu telah ia lantunkan dan tak ada jaminan kita telah paham.
Padahal kata-kata beliau itu mengeja kehidupan kita ini sendiri alfa, beta, alif, ba', tha' kebingungan sejarah kita dari hari ke hari.
Sejarah tentang sebuah negeri yang puncak kerusakannya terletak pada ketidak sanggupan para penghuninya untuk megakui betapa kerusakan itu sudah sedemikian tidak terperi

"Menggeliatlah dari matimu "tutur sang sunan, siumanlah dari pingsan berpuluh-puluh tahun, bangkitlah dari nyenyak tidur panjangmu sungguh negeri ini adalah penggalan sorga.
Sorga seakan-akan pernah bocor mencipratkan kekayaan dan keindahannya dan cipratan keindahannya itu bernama Indonesia raya.
Kau bisa tanam benih kesejahteraan apa saja diatas kesuburan tanahnya yang tidak terkirakan.
Tidak mungkin kau temukan makhluk tuhanmu kelaparan di tengah hijau bumi kepulaan yang bergandeng-gandeng mesra ini.
Bahkan bisa engkau selenggarakan dan rayakan pengantin-pengantin pembangunan lebih dari yang bisa dicapai negeri-negri lain yang manapun.
Tapi kita memang telah tidak mensyukuri rahmat sepenggal surga ini, kita telah memboroskan anugerah tuhan ini melalui cocok tanam ketidak adilan dan panen-panen kerakusan

" Cah angon - cah angon penekno blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekno kanggo mbasoh dodot-iro "

Kanjeng sunan tidak memilih figur misalnya pak jendral pak jendral, juga bukan intelektual-intelektual, ulama-ulama, sastrawan-sastrawan atau senian-seniman atau apapun tetapi cah angon - cah angon
Beliau juga menuturkan penekno blimbing kuwih, bukan penekno pelem kuwih, bukan penekno sawuh kuwih, juga bukan buah yang lain tetapi blimbing bergigir lima, terserah apa tafsirmu mengenai lima, yang jelas harus ada yang memanjat pohon yang licin itu, lunyu-lunyu penekno agar belimbing bisa kita capai bersama-sama.
Dan yang harus memanjat adalah bocah angon anak gembala, tentu saja ia boleh siapa saja, ia boleh seorang doktor, boleh seorang seniman, boleh seorang kyai, boleh seorang jenderal atau siapapun.
Namun dia harus mempunyai daya angon, daya untuk menggembalakan, kesanggupan untuk ngemong semua pihak, karakter untuk merangkul dan memesrai siapa saja sesama saudara sebangsa.
Determinasi yang menciptakan garis resultan kedamaian bersama, pemancar kasih sayang dibutuhkan dan diterima semua warna, semua golongan dan semua kecenderungan.
Bocah angon adalah seorang pemimpin nasional bukan tokoh golongan atau pemuka suatu gerombolan.
Selicin apapun pohon-pohon tinggi reformasi ini sang bocah angon harus memanjatnya, harus dipanjat sampai selamat memperoleh buahnya, bukan ditebang, dirobohkan atau diperebutkan dan air sari pati belimbing lima gigir itu diperlukan bangsa ini untuk mencuci pakaian nasionalnya.
Pakaian adalah akhlak, pakaian adalah sesuatu yang menjadikan manusia bukan binatang.
Kalau engkau tidak percaya berdirilah engkau di depan pasar dan copotlah pakaianmu maka engkau kehilangan segala macam harkatmu sebagai manusia.
Pakaianlah yang membuat manusia bernama manusia.
Pakaian adalah pegangan nilai, landasan moral dan sistem nilai. Sistem nilai itulah yang harus kita cuci dengan pedoman lima

" Dodoth-iro dodoth-iro kumitir bedah ing pinggir, dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padang rembulane mumpung jembar kalangane, yo surako - surak iyooo"

Satu tembang tidak selesai ditafsirkan dengan seribu jilid buku.
Satu lantunan syair tidak selesai ditafsirkan dengan waktu seribu bulan dan seribu orang melakukannya.
Aku ingin mengajakmu untuk berkeliling, untuk memandang warna-warni yang bermacam-macam dengan membiarkan mereka dengan warnanya masing-masing agar kita mengerti dengan hati dan ketulusan kita, apa muatan kalbu mereka mengenai lir ilir, mengenai ijo royo-royo, mengenai temanten anyar, mengenai bocah angon dan blimbing, mengenaimbasuh dodot iro, mengenai kumitir bedahing pinggir  yang akan kita bicarakan tentu saja  kapan saja bersama-sama, tapi aku ingin mengajakmu untuk mendengarkan siapa saja diantara saudara-saudara kita tanpa perlu kita larang-larang untuk menjadi ini atau untuk menjadi itu, asalkan kita bersepakat bahwa bersama-sama mereka semua, kita akan menyumbangkan yang terbaik bagi semuanya, bukan hanya bagi ini atau itu, bukan hanya bagi yang disini atau yang di sana.



Share this article :
Comments
0 Comments

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. . - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger